RESENSI TEATER MEGA SILPIYA XI MIPA 4

 "Menyatukan perbedaan"

Oleh Mega Silpiya XI MIPA 4

RESENSI TEATER SMAN TANJUNGSARI KELAS XI MIPA 6



I.               Identitas Pementasan
1.      Judul Teater: “Satu Jiwa”

2.      Sutradara: Siti Kania

3.      Waktu dan Tanggal Pementasan: Selasa, 17 Mei 2022

4.      Tempat Pementasan: Kampus SMAN Tanjungsari di kelas XI MIPA 6

5.      Penonton: Siswa/i SMAN Tanjungsari

6.      Aktor dan Aktris Pertunjukan:

Imas    : diperankan oleh Widian Audya

Fara     : diperankan oleh Tasya Dwi Damayanti

Yuyun : diperankan oleh Delyta Santyana

Agus    : diperankan oleh Egi Kurniawan

Angel  : diperankan oleh Repani Rahmawati

Alex    : diperankan oleh Axel Rafi Fahreza

Leo      : diperankan oleh Billy Arya Nugraha

Kevin  : diperankan oleh Dika Putra

Sonia   : diperankan oleh Elis Raisya

Silly     : diperankan oleh Raya Fairallsa

Ranti   : diperankan oleh Rianti Sri Rahayu

7.      Pementas : Siswa/i SMAN tanjungsari kelas XI MIPA 6

8.      Tata Rias & Kostum: Para pemain ber-make-up sesuai dengan perannya masing-masing dan tidak terlalu berlebihan. Kostumnya tidak berlebihan dan sesuai dengan perannya masing-masing.

9.      Tata Panggung: tata panggung dirancang sesuai tempat dan kondisinya.

10.  Tata Lampu: Lampu yang digunakan untuk pementasan Teater ini hanya menggunakan lampu berwarna putih saja.

 

    II.            Ringkasan Isi Pementasan:

Dalam teater yang berjudul “Satu Jiwa” yang dipentaskan oleh Siswa/i kelas XI MIPA 6 SMAN Tanjungsari ini mengisahkan tentang merangkul perbedaan. Kisah ini terfokus pada kisah keluarga sederhana yang berasal dari desa yang terdiri dari Pak Agus, Bu Yuyun dan Imas putri mereka. Hingga suatu hari Pak Agus mendapatkan surat dari kantornya untuk pindah ke kota, singkat cerita kemudian Pak Agus dan keluarga memutuskan pindah dan menetap di kota tempat Agus bekerja. Setelah sampai di kota, ada tetangga-tetangga yang tidak suka melihat kehadiran keluarga Pak Agus karena dianggap kampungan dan berada dibawah mereka. Suatu hari anak Pak Agus dan Bu yuyun yang bernama Imas sedang bermain sendirian di halaman rumahnya tiba-tiba dihampiri oleh anak-anak nakal yang hanya mencemooh Imas. Dari kejauhan, Fara melihat hal tersebut dan membela Imas lalu mengusir anak-anak nakal itu. Imas dan Fara akhirnya menjadi teman baik dan bermain bersama.

Di sisi lain, Angel dan Alex sebagai orang tua Fara terlihat pulang setelah bekerja dan melihat Fara sedang bermain dengan Imas. Saat bermain, Fara tiba-tiba jatuh, hal ini membuat Angel dan Alex murka, mereka pun memarahi Imas dan menghinanya. Orang tua Imas yang mendengar keributan langsung pergi menghampiri Imas dan mencoba meminta maaf  kepada keluarga Angel dan Alex. Tetapi Angel tetap marah dan semakin menghina keluarga Pak Agus. Akhirnya keluarga Pak Agus masuk rumah.

Keesokan harinya, keluarga Pak Agus membuatkan makanan untuk diberikan kepada keluarga Alex sebagai permohonan dan permintaan maaf. Awalnya Angel tidak menerima mereka tetapi akhirnya luluh dan dua keluarga tersebut berdamai dan makan makanan yang telah dimasak bu Yuyun itu bersama-sama.

 

 III.            Isi Resensi:

1.      Kelebihan:

Teater ini sangat menarik. Dari segi keaktoran, semua pemain menerapkan teknik keaktoran terlihat dari ekspresi, gesture, vokal dan artikulasi yang baik dalam berdialog. Setiap pemain mampu memerankan dan menghayati sesuai perannya. Waktu pementasan juga tidak terlalu lama. Dari informasi yang didapatkan mereka dapat berperan baik dan matang karena waktu latihan dan semua persiapan telah disiapkan selama kurang lebih 2 bulan.

2.      Kekurangan:

Suatu pementasan pasti ada kelebihan dan kekurangan, begitu juga dengan Teater yang dipentaskan oleh kelas ini. Salah satu kekurangan dalam pementasan Teater ini adalah dalam kekompakan dalam perpindahan properti kurang kompak, cerita terlalu singkat dan suara dari pemain kurang terdengar.

 

 IV.            Penutup:

1.      Kesimpulan

Dari pementasan Teater Siswa/i kelas XI MIPA 6 SMAN Tanjungsari sudah bagus dan sesuai dengan realitas kehidupan nyata masyarakat. Kita bisa mengambil hikmah setelah menonton Teater ini bahwa perbedaan bukanlah hambatan dalam memilih pertemanan, perbedaan akan indah jika kita bisa menanganinya dengan baik.

 

2.      Saran

Seperti yang sudah ditulis pada bagian kekurangan, kekompakan dalam pergantian properti kurang kompak, sehingga hanya itu-itu saja orang yang membantu dalam pergantian properti. Dan juga suara kurang terdengar oleh penonton sehingga penonton kurang jelas mendengar dialog pemain. Sebagai saran, supaya kekompakan lebih di tingkatkan lagi dan suara lebih keras agar terdengar jelas oleh penonton.

Komentar

Posting Komentar